Ali Angkasah Dukung Hendriko Lubis, KONI Aceh Tamiang Jangan Sekadar Jadi Panggung Seremoni..!!

Aceh21 Dilihat

Aceh Tamiang, Senin 12 Oktober 2026. An.Edwin wartawan inspirasipublik.news

Masa depan olahraga Aceh Tamiang tak cukup dibangun dengan seremoni, tepuk tangan, dan perebutan kursi kepemimpinan. Di balik ambisi mengejar prestasi, ada atlet yang membutuhkan pembinaan, pelatih yang menanti perhatian, serta cabang olahraga (cabor) yang mendambakan kepastian program.

Pesan itulah yang mengemuka dari Ketua Cabor Cricket Aceh Tamiang, Ir. Ali Angkasah, yang menyatakan dukungannya terhadap Hendriko Lubis dalam bursa calon Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Aceh Tamiang periode mendatang.

Dukungan tersebut disampaikan Ali saat ditemui di sebuah kafe di Karang Baru, Senin (12/10/2026). Baginya, dinamika pemilihan Ketua KONI semestinya menjadi momentum untuk membicarakan arah baru pembinaan olahraga, bukan semata-mata soal siapa yang akan menduduki kursi pimpinan.

KONI HARUS MENJADI RUMAH BESAR SELURUH CABOR

Ali menilai, siapa pun yang masuk dalam bursa pencalonan patut diberi ruang untuk menyampaikan gagasan dan menawarkan kontribusi bagi kemajuan olahraga daerah, sepanjang mengikuti mekanisme organisasi yang berlaku.

“Saya mendukung Hendriko Lubis untuk mengikuti bursa calon Ketua KONI Aceh Tamiang. Harapan saya sederhana, KONI ke depan harus benar-benar menjadi rumah besar bagi seluruh cabang olahraga, bukan hanya tempat berkumpulnya pengurus atau penyelenggaraan kegiatan seremonial,” ujar Ali.

Ia menegaskan, atlet harus ditempatkan sebagai pusat perhatian. Pembinaan perlu diperkuat, sementara setiap cabor harus memperoleh perhatian secara proporsional berdasarkan kebutuhan dan program yang terukur.

Menurut Ali, prestasi tidak lahir secara instan. Medali yang diperebutkan di arena pertandingan merupakan hasil dari proses panjang yang membutuhkan perencanaan, pendampingan, fasilitas, dan konsistensi pembinaan.

Karena itu, persoalan atlet usia dini, peningkatan kualitas pelatih, ketersediaan sarana dan prasarana, hingga kepastian program kerja harus menjadi bagian penting dari agenda kepemimpinan KONI ke depan.

Tanpa fondasi pembinaan yang kuat, target prestasi berisiko berhenti sebagai slogan. Sebaliknya, dengan perencanaan yang jelas dan komunikasi yang terbuka, setiap cabor memiliki peluang lebih besar untuk berkembang sesuai potensi masing-masing.

Ali juga berharap pemilihan Ketua KONI Aceh Tamiang berlangsung terbuka, demokratis, serta berpedoman pada aturan organisasi. Dengan begitu, pemimpin yang terpilih memiliki legitimasi sekaligus tanggung jawab untuk merangkul seluruh insan olahraga.

HENDRIKO: JANGAN HANYA HADIR SAAT MEDALI DIPEREBUTKAN

Dukungan tersebut disambut Hendriko Lubis, Ketua Sekber Wartawan Indonesia (SWI) sekaligus Ketua Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (PERKEMI) Aceh Tamiang.

Hendriko menyampaikan apresiasi kepada Ali Angkasah dan insan olahraga yang memberikan perhatian terhadap keikutsertaannya dalam bursa calon Ketua KONI Aceh Tamiang.

Namun, Hendriko menegaskan, bahwa pencalonan bukan semata-mata tentang persaingan antarfigur. Lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, menyerap persoalan cabor, dan merumuskan langkah konkret bagi kemajuan olahraga daerah.

“Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan yang disampaikan Saudara Ali Angkasah, dan juga sebagai Ketua Cabor Cricket Aceh Tamiang. Bagi saya, olahraga tidak boleh hanya dibicarakan ketika ada pertandingan, perebutan medali, atau pemilihan ketua,” kata Hendriko.

Menurutnya, olahraga membutuhkan pembinaan yang konsisten, program yang jelas, transparansi, serta keberpihakan terhadap kebutuhan atlet.

Ia mengingatkan, keberhasilan organisasi olahraga tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana. Hal yang lebih mendasar ialah sejauh mana program tersebut memberikan dampak bagi peningkatan kemampuan atlet dan perkembangan setiap cabor.

Hendriko juga menilai, komunikasi yang sehat antara KONI dan pengurus cabor menjadi salah satu kunci untuk mengurai persoalan di lapangan. Aspirasi atlet, kebutuhan pelatih, hingga kendala sarana dan pembiayaan harus menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun program.

“Saya memandang KONI sebagai amanah untuk membangun prestasi bersama. Tidak boleh ada cabor yang merasa berjalan sendirian. Kita perlu mendengar suara atlet, pelatih, dan pengurus cabor,” ujarnya.

Jika memperoleh kepercayaan melalui mekanisme organisasi yang sah, Hendriko menyatakan ingin mendorong tata kelola yang transparan, pembinaan terarah, serta program kerja yang dapat dievaluasi secara terbuka.

Pernyataan itu sekaligus menempatkan pembinaan dan profesionalisme sebagai isu penting dalam menentukan arah kepemimpinan KONI Aceh Tamiang.

PERTARUNGAN GAGASAN, BUKAN SEKADAR PEREBUTAN KURSI

Dukungan Ali Angkasah kepada Hendriko Lubis menjadi bagian dari dinamika menjelang pemilihan Ketua KONI Aceh Tamiang. Namun, dukungan terhadap seorang calon pada akhirnya perlu diuji melalui gagasan, program, dan kesanggupan menjawab persoalan olahraga di daerah.

Pemilihan ketua memang menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi. Akan tetapi, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai setelah proses pemilihan selesai, menyatukan perbedaan, menyusun prioritas, dan memastikan pembinaan berjalan tanpa terhambat kepentingan kelompok.

KONI membutuhkan program realistis, sistem pembinaan berkelanjutan, pengelolaan anggaran yang akuntabel, serta evaluasi prestasi yang terukur. Semua itu tidak bisa dikerjakan oleh satu figur seorang diri, melainkan memerlukan kerja sama seluruh cabor, dukungan pemangku kepentingan, dan komitmen bersama.

Sebab, olahraga bukan milik seorang ketua. Bukan pula milik satu atau dua cabang olahraga. KONI merupakan wadah bersama yang semestinya membuka kesempatan bagi atlet untuk tumbuh dan berprestasi.

Pada akhirnya, publik olahraga Aceh Tamiang tidak hanya membutuhkan nama baru di kursi kepemimpinan. Mereka membutuhkan arah yang jelas, program yang berjalan, dan hasil yang bisa dirasakan.

Kursi ketua boleh berganti, tetapi pembinaan tidak boleh berhenti.

Di situlah ukuran kepemimpinan KONI sesungguhnya, bukan sekadar siapa yang berhasil terpilih, melainkan siapa pun yang terpilih harus mampu membuktikan bahwa olahraga Aceh Tamiang bergerak maju, atlet memperoleh perhatian, dan prestasi dibangun melalui kerja nyata—bukan sekadar janji.