Bursa Ketua KONI Aceh Tamiang Menghangat, Jangan Kunci Hasil Sebelum Bertanding

Olahraga27 Dilihat

Aceh Tamiang, An.Edwin wartawan inspirasipublik.news

Dinamika menjelang pemilihan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh Tamiang mulai menghangat. Munculnya figur dari kalangan pimpinan organisasi pers sebagai salah satu calon turut membuka ruang perbincangan: bukan soal dari mana seseorang berasal, melainkan seberapa siap ia membawa organisasi olahraga tersebut bekerja dan berprestasi.

Di tengah dinamika itu, satu hal menjadi penting: proses pemilihan harus tetap terbuka, objektif dan berjalan sesuai aturan.

Sebab, KONI bukan sekadar soal kursi ketua. Di belakangnya ada atlet yang berlatih, pelatih yang mendampingi, cabang olahraga yang membutuhkan pembinaan, serta harapan daerah untuk melahirkan prestasi.

Pengamat politik Misdi berpandangan, latar belakang seorang calon dari organisasi pers bukan persoalan sepanjang yang bersangkutan memiliki kapasitas, visi, integritas organisasi, serta komitmen terhadap kemajuan olahraga.

Menurutnya, pengalaman memimpin organisasi pers dapat menjadi modal dalam membangun komunikasi dan jejaring. Namun, keputusan mengenai siapa yang layak memimpin KONI tetap harus dikembalikan kepada mekanisme organisasi dan penilaian terhadap gagasan serta program yang ditawarkan.

“Jangan sampai proses pemilihan hanya menjadi pertarungan kepentingan kelompok. Kalau memang ada calon yang memiliki kemampuan dan program yang jelas, biarkan seluruh peserta menilai secara objektif. Jangan sampai suara organisasi olahraga diarahkan melalui tekanan atau skenario tertentu,” ujar Misdi.

Ia menilai, transparansi merupakan salah satu kunci penting agar hasil pemilihan memiliki legitimasi yang kuat.

Mulai dari persyaratan calon, dukungan organisasi, tahapan pemilihan hingga proses pemungutan suara, seluruhnya harus berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Sebab, ketika prosesnya terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan, siapa pun yang nantinya terpilih akan memiliki pijakan yang lebih kuat untuk menjalankan roda organisasi.

Di sinilah marwah KONI dipertaruhkan.

Sementara itu, Hendriko Lubis, Ketua Sekber Wartawan Indonesia (SWI) sekaligus Ketua Cabang Olahraga (Cabor) Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (Perkemi) Aceh Tamiang, menegaskan bahwa organisasi olahraga tidak boleh kehilangan marwah hanya karena kepentingan sesaat.

Menurut Hendriko, siapa pun yang maju sebagai calon Ketua KONI harus siap diuji bukan hanya melalui dukungan, tetapi juga melalui gagasan, program, kemampuan memimpin dan komitmen membangun seluruh cabang olahraga secara adil serta berkelanjutan.

“Kalau saya dipercaya atau dinilai sebagai calon, saya siap mengikuti mekanisme yang berlaku. Tidak perlu ada rekayasa, tekanan ataupun permainan di belakang layar. Biarkan organisasi olahraga menentukan pilihan secara bebas sesuai aturan. Yang kita cari bukan sekadar seorang ketua, tetapi pemimpin yang mampu membawa KONI bekerja untuk atlet, pelatih dan kemajuan olahraga Aceh Tamiang,” tegas Hendriko.

Pernyataan tersebut menempatkan kontestasi KONI pada substansi yang lebih besar: siapa pun calon yang maju harus siap mempertanggungjawabkan gagasan di hadapan organisasi olahraga.

Bukan sekadar siapa yang paling banyak dikenal. Bukan pula siapa yang paling kuat dukungannya.

Tetapi bagaimana visi itu diterjemahkan menjadi program yang nyata bagi atlet, pelatih dan cabang olahraga.

Kini, perhatian publik tertuju pada proses yang akan berlangsung.

Kontestasi kepemimpinan KONI Aceh Tamiang semestinya menjadi ruang untuk adu gagasan, adu program dan adu komitmen, bukan arena untuk mengunci hasil sebelum pertandingan dimulai.

Sebab dalam olahraga, kemenangan yang dihormati bukan hanya tentang siapa yang berdiri di podium.

Tetapi bagaimana pertandingan berlangsung secara fair.

Begitu pula dalam pemilihan Ketua KONI. Transparansi, sportivitas dan penghormatan terhadap suara organisasi olahraga menjadi fondasi penting agar siapa pun yang terpilih nantinya benar-benar memiliki mandat yang kuat untuk membawa KONI Aceh Tamiang bekerja lebih profesional dan mengejar prestasi yang membanggakan daerah.