Banjir Meluas di Aceh Tamiang, Sedikitnya 380 KK Mengungsi, Tanggul Marlempang Putus

Aceh Tamiang95 Dilihat

Aceh Tamiang, An (RK) Wartawan Inspirasipublik.news

Banjir yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Aceh Tamiang mulai menekan kehidupan warga. Hujan lebat yang mengguyur kawasan tersebut memicu kenaikan debit sungai, merendam permukiman, hingga memaksa ratusan kepala keluarga (KK) meninggalkan rumah mereka.

Laporan sementara Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Aceh Tamiang, Senin (12/10/2026) pukul 08.00 WIB, mencatat sedikitnya 380 KK telah mengungsi di enam desa yang memiliki rincian jumlah pengungsi. Angka tersebut belum mencakup warga di lokasi lain yang juga dilaporkan terdampak dan mulai mengungsi.

Bencana banjir dilaporkan terjadi sejak Minggu (11/10/2026), setelah hujan lebat mengguyur wilayah Aceh Tamiang. Petugas BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat), serta Satgas SAR turun ke sejumlah lokasi untuk melakukan pemantauan, observasi, dan pendataan dampak banjir.

Berdasarkan laporan tersebut, wilayah terdampak tersebar di Kecamatan Tenggulun, Kejuruan Muda, Karang Baru, Bendahara, Bandar Pusaka, Tamiang Hulu, dan Seruway.

DEBIT SUNGAI MENINGKAT, WARGA TINGGALKAN RUMAH

Dampak banjir cukup serius dirasakan warga di Kecamatan Tenggulun. Di Desa Simpang Kiri, air terus bertambah dan mulai memasuki rumah penduduk dengan ketinggian sekitar 40 sentimeter. Sebanyak 50 KK dilaporkan mengungsi ke kawasan ladang warga.

Kondisi serupa terjadi di Desa Tenggulun. Air yang berasal dari aliran Sungai Rengas terus meningkat dan mulai menggenangi pekarangan rumah. Sebanyak 30 KK mengungsi, sebagian di area perkebunan sawit dan sebagian lainnya ke dataran tinggi setempat.

Sementara itu, di Desa Sumber Makmur, air dilaporkan sempat memasuki permukiman dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter. Sebanyak 20 KK mengungsi ke kawasan Bukit Jengkol. Dalam laporan BPBD, kondisi air di desa tersebut mulai berangsur surut.

Ancaman banjir juga terjadi di Kecamatan Kejuruan Muda. Di Desa Alur Selebu, sebanyak 110 KK dilaporkan mengungsi ke masjid dan rumah kerabat. Meski air telah surut sekitar 60 sentimeter, warga masih bertahan di tempat pengungsian.

Adapun di Desa Tanjung Genteng, air telah memasuki permukiman, tetapi belum ada laporan warga yang mengungsi.

Di Kecamatan Tamiang Hulu, banjir turut memaksa warga Desa Rongoh meninggalkan rumah. Sebanyak 20 KK mengungsi ke Bukit Kandang Ayam dan dataran tinggi di Dusun Suka Jaya. Namun, debit air di wilayah tersebut dilaporkan masih terus meningkat.

Kondisi lebih mengkhawatirkan tercatat di Desa Bandar Khalifah. Air telah memasuki permukiman dengan ketinggian sekitar satu meter. Sebanyak 150 KK dilaporkan mengungsi, terdiri atas 70 KK di kantor Datok Penghulu dan 80 KK lainnya di rumah warga yang berada di dataran lebih tinggi.

TANGGUL PUTUS, AIR RENDAM PERMUKIMAN

Di Kecamatan Bendahara, banjir di Desa Marlempang dilaporkan dipicu luapan air setelah tanggul sungai putus sepanjang sekitar 15 meter. Air mulai menggenangi permukiman warga.

Sementara di Kecamatan Bandar Pusaka, debit air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Kanan masih mengalami kenaikan dan dilaporkan telah meluap ke kawasan permukiman.

Di Desa Babo, air mulai memasuki kawasan permukiman, meski belum ada rumah yang dilaporkan terendam. Adapun di Desa Batu Badulang, genangan masih menutupi jalan lintas, tetapi belum dilaporkan memasuki rumah warga.

Ancaman banjir juga meluas ke Kecamatan Karang Baru. Di Desa Sukajadi, air mulai menggenangi permukiman dengan ketinggian sekitar 30 sentimeter dan sebagian warga mulai mengungsi.

Sedangkan di Desa Tanjung Karang, air telah memasuki areal Pesantren Darul Mukhlisin. Hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada laporan genangan di kawasan permukiman desa itu.

Di Kecamatan Seruway, tepatnya Desa Gelung, banjir dilaporkan telah merendam 15 rumah. Warga yang terdampak mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, sementara dapur umum telah didirikan untuk mendukung kebutuhan masyarakat.

BPBD LAKUKAN PEMANTAUAN DAN PENDATAAN

Menghadapi kondisi tersebut, petugas gabungan terus melakukan pemantauan dan observasi di lapangan. BPBD Aceh Tamiang juga menyiapkan personel di workshop, melakukan pendataan dampak, serta menyampaikan laporan perkembangan secara berkala.

Hingga pembaruan data pukul 08.00 WIB, kerugian material akibat banjir masih dalam pendataan. Perkembangan kondisi air dan jumlah warga terdampak masih perlu dipantau, terutama di wilayah yang debit sungainya terus meningkat.

Banjir ini menjadi peringatan bagi masyarakat yang bermukim di sekitar sungai agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan kenaikan air susulan. Warga diimbau mengikuti arahan petugas, mengutamakan keselamatan jiwa, serta segera melaporkan kondisi darurat kepada aparat setempat.

Di tengah situasi tersebut, kecepatan informasi, kesiapsiagaan petugas, dan koordinasi antarpihak menjadi penting untuk membantu warga menghadapi dampak bencana.

Seketika air terus meninggi dan rumah mulai terendam, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Penanganan tidak cukup berhenti pada pemantauan dan pendataan, tetapi juga perlu memastikan warga terdampak memperoleh bantuan serta perlindungan sesuai kebutuhan di lapangan.