Aceh Tamiang, inspirasipublik.news
Sinar matahari sore menyelimuti kebun Melon Golden Alisha di Kebun Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Selasa (21/7/2026). Di antara ratusan polybag yang kembali dipersiapkan setelah banjir bandang melanda pada November 2025, Chaidir Saleh (62) berdiri memberi arahan kepada para petani muda.

Di balik kebun yang kembali menghijau itu, tersimpan kisah perjuangan yang tidak sederhana. Chaidir pernah empat kali gagal membudidayakan melon. Saat panen perdananya pada 2020, buah yang dihasilkan bahkan terasa hambar dan terpaksa dijual di bawah harga pasar. Namun kegagalan tidak mematahkan semangatnya. Ia terus belajar secara otodidak hingga menemukan formula menghasilkan melon yang manis, berkualitas, dan diminati pasar.
Keberhasilan itu mengubah hidupnya. Hasil panen mampu menghidupi keluarga, bahkan mengantarkan anaknya menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Permintaan melon pun terus berdatangan dari berbagai daerah, termasuk pusat perbelanjaan, meski belum seluruhnya mampu dipenuhi.
Cobaan kembali datang ketika pada Desember 2024 Chaidir terserang stroke ringan yang membuatnya harus menggunakan kursi roda. Aktivitas bertani nyaris berhenti. Namun, semangatnya tidak pernah lumpuh.
Melalui Program Smart Agriculture Melonesia yang digagas Pertamina EP Field Rantau, Chaidir justru bangkit dan dipercaya menjadi mentor bagi Kelompok Tani Melon Mutiara serta Sekolah Lapang. Dari kursi rodanya, ia membagikan ilmu tentang teknik budidaya, rahasia menghasilkan melon bercita rasa manis, hingga inovasi media tanam polybag yang dapat digunakan hingga 22 kali masa tanam sehingga mampu menekan biaya produksi para petani.
Manager Community Involvement & Development (CID) Pertamina Hulu Rokan Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan pengalaman panjang Chaidir menjadi modal berharga untuk melahirkan petani-petani muda yang mandiri. Melalui 12 kali pertemuan Sekolah Lapang, para peserta dibekali pengetahuan budidaya modern agar pertanian menjadi usaha yang menjanjikan bagi generasi muda.
Bagi Chaidir, kebun melon bukan lagi sekadar sumber penghasilan. Kebun itu menjadi saksi bahwa kegagalan, bencana, bahkan penyakit tidak selalu menjadi akhir perjalanan. Dari seorang petani yang pernah terpuruk, kini lahir seorang guru yang menanam harapan di hati generasi muda. Harapannya sederhana, agar Melon Golden Alisha kelak menjadi ikon kebanggaan baru Aceh Tamiang sekaligus membuka jalan bagi lahirnya petani-petani tangguh di masa depan.
(RC)








