Dijanjikan Kerja di Australia, Renza Malah Terlantar di Madagaskar; Pulang Membawa Pesan untuk Anak Muda Aceh Tamiang

Aceh Tamiang38 Dilihat

An.(RK) WARTAWAN INSPIRASIPUBLIK.NEWS

Aceh Tamiang – Ada rasa lega yang sulit diungkapkan dengan kata-kata ketika Muhammad Renza akhirnya kembali menginjakkan kaki di rumahnya.

Setelah melewati perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, warga Kampung Bukit Rata, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, itu akhirnya kembali berkumpul bersama keluarga.

Renza tiba di rumah pada Sabtu (29/8/2026), setelah sebelumnya terlantar di Madagaskar, Afrika. Ia menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), setelah tergiur tawaran pekerjaan dengan janji penghasilan besar di Australia.

Namun, kenyataan yang dihadapinya jauh berbeda.

Negeri yang dijanjikan sebagai tempat mencari penghidupan justru tidak pernah ia datangi. Renza malah terlantar jauh dari tanah kelahirannya, di Madagaskar.

Kini, ia sudah kembali. Tetapi pengalaman pahit itu meninggalkan pelajaran yang tidak mungkin mudah dilupakan.

Selasa (1/9/2026), Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi, bersama sejumlah pihak mendatangi kediaman Renza di Kampung Bukit Rata.

Kunjungan itu menjadi bentuk perhatian pemerintah sekaligus memastikan warganya yang menjadi korban TPPO mendapatkan perlindungan setelah kembali ke tanah kelahiran.

Bupati Armia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang ikut membantu proses pemulangan Renza hingga akhirnya dapat kembali ke Aceh Tamiang dan berkumpul dengan keluarganya.

“Terima kasih kepada Kedutaan Besar di Madagaskar, kemudian kawan-kawan yang ada di NCB Interpol Indonesia di Mabes Polri, serta rekan-rekan di Departemen Luar Negeri. Terima kasih banyak atas bantuannya,” ujar Armia.

Di balik kepulangan itu, terselip harapan besar dari pemerintah daerah: jangan sampai pengalaman Renza kembali terjadi kepada warga Aceh Tamiang lainnya.

Armia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap tawaran pekerjaan ke luar negeri yang hanya mengandalkan janji gaji besar.

Sebab, di balik janji tersebut, bisa saja tersimpan risiko yang tidak pernah dibayangkan.

Koordinator BP4MI Aceh Tamiang, Kamaruzzaman, juga mengingatkan masyarakat agar memastikan setiap proses keberangkatan ke luar negeri dilakukan melalui jalur resmi.

“Kami dari BP4MI Aceh mengimbau kepada masyarakat Aceh Tamiang, kalau memang nanti mau bekerja ke luar negeri supaya betul-betul mempertimbangkan dan jangan terpengaruh iming-iming gaji besar,” katanya.

Ia meminta calon pekerja migran berkonsultasi terlebih dahulu dengan BP4MI sebelum berangkat. Masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai prosedur keberangkatan resmi melalui layanan BP4MI di Dinas Ketenagakerjaan Aceh Tamiang.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Aceh Tamiang, Rafe’i, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan BP4MI untuk mencegah kasus TPPO kembali menimpa masyarakat.

Sesuai arahan Bupati, sosialisasi akan dilakukan hingga ke tingkat kecamatan dengan melibatkan Datok Penghulu dan tokoh-tokoh masyarakat.

“Nanti kita akan mengundang para Datok Penghulu dan tokoh-tokoh masyarakat di kecamatan untuk mensosialisasikan maraknya TPPO ini,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah juga membuka jalan bagi masyarakat yang benar-benar ingin bekerja ke luar negeri melalui prosedur resmi.

Saat ini, melalui BP4MI, pemerintah tengah melakukan rekrutmen dan pelatihan terhadap 40 calon pekerja migran. Mereka dipersiapkan untuk bekerja di sejumlah negara, termasuk negara tetangga dan Arab Saudi.

Pelatihan tersebut berlangsung selama tiga bulan, meliputi peningkatan kompetensi dan kemampuan bahasa.

Bagi masyarakat yang terkendala biaya keberangkatan, pemerintah juga menyediakan akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Aceh.

Pulang Membawa Pesan

Bagi Renza, kepulangannya bukan sekadar tentang kembali ke rumah.

*la membawa sebuah pesan yang lahir dari pengalaman pahitnya sendiri.*

*Ia tidak ingin orang lain mengalami apa yang pernah dialaminya.*

Dengan pengalaman itu, Renza mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda Aceh Tamiang, agar tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan di luar negeri hanya karena dijanjikan gaji besar.

“Untuk teman-teman semua, khususnya di Aceh Tamiang, untuk saat ini jangan percaya pergi ke luar negeri dengan iming-iming gaji besar. Saya adalah salah satu korban penipuan yang diiming-imingi gaji besar dan dijanjikan bekerja di Australia, tidak tahunya ditelantarkan di Madagaskar, benua Afrika,” kata Renza.

*Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu proses pemulangannya.*

Tempat yang mungkin dulu terasa biasa saja, kini memiliki arti yang jauh lebih dalam. Di sanalah ia kembali bertemu keluarga, setelah perjalanan panjang yang membawanya begitu jauh dari kampung halaman.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa mencari pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik adalah harapan banyak orang. Namun, harapan itu harus ditempuh melalui jalan yang aman dan resmi.

Sementara itu, satu korban TPPO lainnya yang juga merupakan sepupu Renza, Melisa Habib, telah lebih dahulu dipulangkan ke Indonesia. Saat ini Melisa masih berada di Bogor.

Pemerintah Aceh Tamiang berharap pengalaman kedua warga tersebut menjadi pelajaran bersama. Masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri diminta tidak hanya melihat besarnya gaji yang dijanjikan, tetapi juga memastikan legalitas perusahaan, kejelasan pekerjaan, negara tujuan, serta seluruh prosedur keberangkatan.

Sebab, mencari rezeki di negeri orang seharusnya membawa harapan untuk pulang dengan kehidupan yang lebih baik—bukan membuat seseorang kehilangan jalan untuk kembali ke rumah.