Drama 11–11 di Muscab Percasi Tamiang, Zulherman dan M. Tasya Harus Bertarung Lagi

Aceh Tamiang73 Dilihat

Karang Baru, An.Edwin wartawan inspirasipublik.news

Harapan untuk melahirkan nahkoda baru Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kabupaten Aceh Tamiang belum menemukan ujungnya.

Musyawarah Cabang (Muscab) Percasi Aceh Tamiang untuk memilih ketua periode 2026–2030 yang berlangsung di Best Kopi, Karang Baru, Sabtu (26/9/2026), justru berakhir dengan angka yang membuat suasana forum menegang: 11–11.

Dari 29 pemilik hak suara yang terdaftar, hanya 22 yang hadir dan dinyatakan sah memberikan suara. Hasil pemilihan menunjukkan Zulherman, atau yang akrab disapa Yong Cik, memperoleh 11 suara. Jumlah yang sama diraih rivalnya, M. Tasya.

Tak ada pemenang. Tak ada yang kalah.

Forum akhirnya harus membuka kembali pertarungan melalui pemilihan ulang setelah hasil suara berakhir imbang.

“Hari ini sungguh menegangkan. Pertarungan berakhir seimbang, masing-masing sebelas suara,” ujar Ketua Panitia Amir Hamzah saat mengumumkan hasil pemilihan di hadapan peserta Muscab.

Angka 11–11 itu sekaligus menggambarkan ketatnya persaingan. Bagi pendukung Zulherman, hasil tersebut menunjukkan adanya dukungan yang kuat, meski belum cukup untuk mengantarkannya langsung ke kursi ketua.

Bukan Sekadar Pemain Catur

Zulherman datang ke bursa ketua bukan sebagai nama yang asing di lingkungan percaturan Aceh Tamiang.

Sosok yang akrab disapa Yong Cik itu dikenal sebagai wartawan dan aktif dalam organisasi DPD Sekber Wartawan Indonesia (SWI) Aceh Tamiang sebagai Wakil Ketua. Di luar aktivitas jurnalistik dan organisasi, Zulherman juga dikenal memiliki ketertarikan kuat terhadap olahraga, khususnya catur.

Kedekatannya dengan dunia catur dan para pemain membuat pencalonannya mendapat perhatian. Ia membawa sejumlah gagasan yang menyentuh langsung kebutuhan organisasi, pembinaan atlet, hingga pengembangan olahraga catur di Aceh Tamiang.

Visi yang ditawarkan Zulherman adalah:

“Mewujudkan Percasi Aceh Tamiang yang Transparan, Mandiri, dan Berprestasi — Dekat dengan Pemain, Melahirkan Juara.”

Visi tersebut diterjemahkan melalui sejumlah program, mulai dari peningkatan prestasi atlet agar mampu bersaing di tingkat provinsi dan nasional, hingga rencana menghadirkan sekretariat tetap Percasi sebagai pusat aktivitas organisasi.

Zulherman juga mendorong penyelenggaraan turnamen antarpelajar tingkat SMA/sederajat di seluruh Aceh Tamiang sebagai bagian dari upaya menjaring bibit-bibit pecatur sejak dini.

Di sisi organisasi, ia membawa gagasan pembenahan struktur, penguatan kebersamaan antara pengurus, pelatih dan atlet, serta keterbukaan informasi mengenai kegiatan dan pengelolaan keuangan organisasi.

“Saya bukan datang untuk sekadar memimpin, tapi untuk bekerja bersama-sama. Catur Tamiang milik kita semua,” kata Zulherman di hadapan para pemilik hak suara.

Tujuh Suara yang Belum Hadir

Hasil imbang juga menyisakan satu fakta menarik.

Dari 29 pemilik hak suara, terdapat tujuh orang yang tidak hadir dalam Muscab. Artinya, pertarungan berikutnya masih menyimpan ruang perubahan.

Sebelas suara yang diperoleh masing-masing kandidat belum menjadi garis akhir. Justru angka tersebut menjadi penanda bahwa siapa pun yang ingin memimpin Percasi Aceh Tamiang harus kembali meyakinkan pemilik hak suara ketika Muscab ulang digelar.

Panitia selanjutnya berkoordinasi dengan Percasi Provinsi Aceh untuk menentukan jadwal pemilihan ulang.

Amir Hamzah mengatakan proses berikutnya akan disampaikan setelah jadwal ditetapkan.

“Nantikan proses selanjutnya. Semoga terpilih pemimpin terbaik,” pungkas Amir.

Kini, papan catur Percasi Aceh Tamiang belum benar-benar menutup permainan.

11–11 hanya hasil sementara. Pertarungan sebenarnya masih menunggu langkah berikutnya.