Hardikda ke-67, Armia Pahmi: Masa Depan Aceh Tamiang Ditempa di Tangan Guru

Aceh Tamiang47 Dilihat

An.(RK) WARTAWAN INSPIRASIPUBLIK.NEWS

Masa depan Aceh Tamiang tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas generasi yang dipersiapkan hari ini. Karena itu, pendidikan harus menjadi fondasi utama dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan mampu menghadapi persaingan global.

Pesan tersebut disampaikan Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (P) Drs. Armia Pahmi, MH, saat menjadi pembina upacara peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh ke-67, di Pendopo Bupati Aceh Tamiang, Rabu (2/9/2026).

Di hadapan para insan pendidikan, Armia menegaskan, peringatan Hardikda bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Momentum tersebut harus menjadi ruang untuk melihat kembali sejauh mana capaian pendidikan telah diraih, sekaligus mengevaluasi berbagai tantangan yang masih dihadapi.

“Hardikda menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam mencetak generasi emas Aceh Tamiang yang unggul, berdaya saing, berintegritas, dan berakhlak mulia,” ujar Armia.

Menurutnya, pendidikan di era perkembangan teknologi tidak cukup hanya mengejar kemampuan akademik. Generasi muda juga harus dibekali kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, penguasaan teknologi, serta karakter yang kuat.

Pendidikan, kata dia, harus mampu melahirkan generasi yang memiliki kecerdasan sekaligus integritas dan akhlak, sejalan dengan visi Aceh yang Islami, Maju, Bermartabat, dan Berkelanjutan.

Pada kesempatan itu, Armia juga memberikan penghargaan atas prestasi peserta didik Aceh Tamiang yang mampu mengharumkan nama daerah hingga ke tingkat nasional dan provinsi.

Salah satunya adalah keberhasilan putra-putri Aceh Tamiang yang dipercaya menjadi Paskibraka Nasional di Istana Merdeka, serta mereka yang terpilih sebagai Paskibraka tingkat Provinsi Aceh.

Bagi Armia, prestasi tersebut menjadi bukti bahwa anak-anak Aceh Tamiang memiliki potensi besar untuk berkembang dan bersaing. Namun, di balik keberhasilan seorang siswa, terdapat kerja panjang para guru dan berbagai unsur pendidikan.

“Prestasi ini lahir dari kolaborasi banyak pihak, mulai dari Dinas Pendidikan, Kantor Kementerian Agama, Cabang Dinas Pendidikan Aceh, Dinas Dayah, Majelis Pendidikan Daerah, hingga komite sekolah,” katanya.

Armia secara khusus menyampaikan apresiasi kepada para guru yang selama ini menjadi garda terdepan dalam mendidik dan membentuk karakter generasi muda.

“Terima kasih kepada para guru. Di tangan Bapak dan Ibu, masa depan anak-anak kita ditempa,” ucapnya.

Ia juga mendorong para tenaga pendidik untuk tidak berhenti belajar. Perubahan zaman menuntut guru terus mengembangkan kompetensi, memperluas wawasan, serta mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dalam proses pembelajaran.

Menurutnya, kemajuan teknologi harus ditempatkan sebagai sarana untuk memperkuat kualitas pendidikan, bukan menggantikan peran penting guru sebagai pendidik sekaligus teladan bagi peserta didik.

Armia kemudian mengajak seluruh elemen pendidikan memperkuat kolaborasi. Pemerintah, guru, sekolah, orang tua, peserta didik, dan masyarakat harus berada dalam satu gerak untuk memastikan pendidikan di Aceh Tamiang terus mengalami kemajuan.

“Dengan memperkuat kebersamaan dan kolaborasi, mari kita wujudkan Aceh Tamiang yang religius, berbudaya, maju, dan berdaya saing global,” ajaknya.

Peringatan Hardikda Aceh ke-67 tersebut berlangsung semarak. Upacara dimeriahkan Pasukan Pengibar Bendera HUT ke-81 Kemerdekaan RI, paduan suara SMAN 2 Percontohan Karang Baru, serta penampilan drama kolosal siswa SDN Jamur Jelatang.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan piagam penghargaan kepada guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan tenaga tata usaha yang berprestasi serta berdedikasi dalam dunia pendidikan.

Hadir dalam kegiatan tersebut unsur Forkopimda, pimpinan dan perwakilan instansi vertikal, para kepala OPD, Bunda PAUD, tokoh pendidikan, serta siswa dan mahasiswa dari berbagai jenjang.

Hardikda tahun ini pun meninggalkan satu pesan penting: membangun masa depan daerah tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur. Sebab, gedung sekolah dapat berdiri kokoh, tetapi masa depan generasi tetap ditentukan oleh ilmu, karakter, dan keteladanan yang ditanamkan di dalamnya.