KONI Aceh Tamiang: Kursi Ketua Diperebutkan, Nasib Atlet Jangan Terlupakan

Aceh23 Dilihat

Aceh Tamiang Kamis 15 Oktober Oleh: Redaksi inspirasipublik.news

Bursa pencalonan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Aceh Tamiang semestinya tidak berhenti pada siapa yang mendapat dukungan paling banyak. Ada persoalan yang jauh lebih penting untuk dijawab: setelah kursi kepemimpinan diperebutkan dan jabatan ditetapkan, apa yang benar-benar berubah bagi masa depan olahraga daerah…?

Pertanyaan ini patut menjadi perhatian seluruh insan olahraga. Sebab, KONI bukan panggung untuk mempertontonkan kekuatan pengaruh, bukan pula sekadar tempat menempatkan nama dalam struktur organisasi. KONI memikul tanggung jawab besar dalam mengoordinasikan pembinaan, memperjuangkan kebutuhan atlet, dan membangun jalan menuju prestasi yang berkelanjutan.

Di tengah dinamika tersebut, munculnya Hendriko Lubis, Ketua Sekber Wartawan Indonesia (SWI) Aceh Tamiang, dalam bursa pencalonan Ketua KONI menghadirkan perspektif tersendiri. Latar belakangnya di dunia jurnalistik membawa sejumlah pertanyaan yang layak diuji secara terbuka: sejauh mana pengalaman dalam mengawal informasi, menjalankan fungsi kontrol sosial, dan menyuarakan kepentingan publik dapat diterjemahkan menjadi tata kelola olahraga yang transparan, profesional, dan berorientasi pada prestasi….?

Pertanyaan serupa tentu berlaku bagi seluruh kandidat. Sebab, jabatan dalam organisasi pers bukan jaminan otomatis keberhasilan memimpin organisasi olahraga. Begitu pula dukungan dari berbagai kalangan tidak dengan sendirinya membuktikan kemampuan mengelola pembinaan atlet.

Pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan sekadar latar belakang yang menarik perhatian, melainkan kapasitas yang dapat diuji, program yang dapat diukur, dan komitmen yang dapat dipertanggungjawabkan.

Di sinilah kualitas kepemimpinan diuji: bukan ketika dukungan sedang dikumpulkan, melainkan ketika amanah harus dijalankan.

Dalam dunia jurnalistik, keterbukaan dan kritik merupakan bagian penting dari upaya menjaga kepentingan publik. Prinsip tersebut relevan pula dalam organisasi olahraga. Pengelolaan program, penetapan prioritas, penggunaan anggaran, hingga evaluasi pembinaan semestinya dilakukan secara akuntabel sesuai ketentuan yang berlaku.

KONI bukan milik satu kelompok, satu cabang olahraga, atau segelintir orang yang memiliki pengaruh. Organisasi ini berkaitan dengan kepentingan banyak pihak, mulai dari atlet, pelatih, pengurus cabang olahraga, hingga masyarakat yang menaruh harapan pada prestasi daerah.

Karena itu, siapa pun yang terpilih harus bersedia membuka ruang evaluasi. Kritik tidak semestinya dipandang sebagai gangguan, melainkan sebagai kesempatan untuk memperbaiki kekurangan. Sebaliknya, keterbukaan juga tidak cukup berhenti sebagai slogan dalam pidato pencalonan. Ia harus terlihat dalam cara mengambil keputusan, menyusun program, dan mempertanggungjawabkan hasil kerja.

Persoalan mendasarnya sekarang bukan semata-mata siapa yang paling kuat membangun dukungan, tetapi gagasan apa yang ditawarkan untuk menjawab kebutuhan olahraga Aceh Tamiang.

Bagaimana pembinaan atlet akan dirancang agar tidak terputus setelah sebuah kejuaraan selesai? Bagaimana cabang olahraga dengan keterbatasan fasilitas dan anggaran mendapatkan perhatian yang proporsional? Bagaimana kompetisi lokal diperkuat agar atlet memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan? Dan bagaimana penggunaan anggaran diarahkan pada kebutuhan prioritas, bukan sekadar kegiatan seremonial?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada hiruk-pikuk pencalonan. Sebab, prestasi tidak lahir hanya dari susunan pengurus atau kemeriahan acara pelantikan. Prestasi membutuhkan proses panjang, pelatih yang didukung, fasilitas yang memadai, kompetisi yang berkesinambungan, serta pembinaan yang konsisten.

Atlet tidak cukup diberi tepuk tangan ketika meraih kemenangan. Mereka juga membutuhkan kepastian pembinaan ketika belum berprestasi, dukungan ketika menghadapi keterbatasan, dan sistem yang memungkinkan mereka berkembang secara berkelanjutan.

Di sinilah setiap kandidat perlu menjelaskan arah kepemimpinannya secara konkret. Bukan hanya menjanjikan kemajuan, tetapi memaparkan langkah yang masuk akal, target yang terukur, prioritas yang jelas, dan mekanisme evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hendriko Lubis maupun kandidat lainnya patut memperoleh kesempatan yang sama untuk menyampaikan gagasan. Penilaian terhadap mereka seharusnya bertumpu pada kapasitas, rekam jejak yang dapat diverifikasi, pemahaman terhadap persoalan olahraga, serta kesanggupan menjalankan program. Dengan ukuran yang terbuka dan objektif, proses pemilihan dapat menjadi ruang pertanggungjawaban gagasan, bukan sekadar penghitungan kekuatan kelompok.

Pada titik ini, insan olahraga Aceh Tamiang perlu menempatkan kepentingan atlet sebagai ukuran utama. Dukungan boleh datang dari mana saja. Jaringan organisasi boleh menjadi modal koordinasi. Pengalaman di berbagai bidang juga dapat menjadi nilai tambah. Namun, semuanya harus bermuara pada satu tujuan: memperkuat pembinaan dan meningkatkan prestasi olahraga daerah.

Sebab, jabatan Ketua KONI bukan garis akhir dari sebuah perjuangan organisasi. Justru setelah terpilih, pekerjaan sesungguhnya baru dimulai. Janji harus diterjemahkan menjadi program, program harus dijalankan dengan disiplin, dan hasilnya harus dapat dievaluasi secara terbuka.

Kursi Ketua KONI mungkin hanya satu, tetapi masa depan olahraga Aceh Tamiang adalah tanggung jawab bersama.

Jangan sampai energi yang begitu besar dihabiskan untuk memperebutkan kepemimpinan, sementara persoalan mendasar atlet tetap berjalan di tempat. Jangan pula keberhasilan organisasi hanya diukur dari ramainya kegiatan, banyaknya seremoni, atau panjangnya daftar pengurus.

Ukuran akhirnya jauh lebih sederhana sekaligus lebih berat: apakah pembinaan semakin baik, apakah atlet semakin diperhatikan, apakah cabang olahraga semakin berkembang, dan apakah prestasi menunjukkan kemajuan yang dapat dibuktikan?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab, siapa pun yang duduk di kursi Ketua KONI masih memiliki pekerjaan besar yang harus dituntaskan.

Sebab, dalam olahraga, yang paling penting bukan siapa yang berhasil menduduki kursi pimpinan, melainkan siapa yang sanggup memastikan atlet tidak terus berjuang sendirian.