Negeri Luncai dan Janji Enam Bulan Ibarat dongeng dari zaman kuda gigit besi

Daerah304 Dilihat

Inspirasipublik.news — Dahulu kala, ada sebuah negeri bernama Luncai. Wilayahnya luas, ibu kotanya Labu. Negeri itu dipimpin seorang datuk berjanggut, namanya Datuk Maringgih. Ia tinggal di Kota Labu, dikelilingi pejabat-pejabat yang katanya ahli di bidang masing-masing.

Harapannya satu: Luncai maju.

Tapi tahun berganti tahun, jalan tetap berlubang, pasar tetap becek, rakyat tetap mengeluh. Padahal gaji para pejabat tinggi menjulang.

Akhirnya Datuk Maringgih mengumpulkan semua pejabat. “Enam bulan,” titahnya. “Dalam enam bulan Luncai harus maju pesat!” Semua mengangguk, tepuk tangan riuh.

Enam bulan lewat. Pembangunan? Jalan di tempat.
Yang jalan justru rekening para pejabat. Duit pembangunan banyak yang ditilep. Bantuan sosial sunat sana-sini.

Datanglah “Ahli Perkalian” dari Kota Musang Berjanggut. Dihitung-hitung, angka proyek di-mark up gila-gilaan. Selisihnya? Cukup buat hidup enak tiga turunan.

Kata Ahli Perkalian: “Kembalikan ke kas kerajaan.”
Selesai? Tidak.

Sebab Aska Tiarap, sang penegak hukum, diam seribu bahasa. Tidak ada yang dihukum. Pejabat yang ketahuan malah digeser Datuk Maringgih ke “tempat basah” yang baru. Hanya pindah kursi, bukan pindah ke penjara.

Rakyat Luncai tahu. Mereka berbisik di kedai kopi: “Kalau yang maling cuma dipindah, bukan dipenjara, jangan-jangan hasil haram itu ikut dinikmati juga sama Datuk Musang Berjanggut?”

Tapi itu cuma bisik-bisik. Sebab di Luncai, yang bersuara lantang bisa hilang ditelan kabut Labu.

Tamat.

Ini hanya dongeng fiktif belaka. Kalau ada kesamaan nama, tempat, atau watak dengan negeri yang nyata, itu cuma kebetulan saja.

(Karim)