Pelatihan Batik Jadi Jalan Baru Pemulihan Ekonomi Aceh Tamiang Pascabencana

Aceh Tamiang36 Dilihat

Aceh Tamiang, an.Edwin wartawan inspirasipublik.news

Pemulihan Aceh Tamiang pascabencana tidak hanya membutuhkan pembangunan kembali sarana dan prasarana. Di balik itu, ada ekonomi keluarga yang harus kembali bergerak dan masyarakat yang perlu mendapatkan ruang untuk bangkit.

Salah satu upaya tersebut dilakukan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang melalui penguatan ekonomi kreatif. Kali ini, pengembangan diarahkan pada sektor kriya batik melalui pelatihan yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif dalam Program Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Ekonomi Kreatif (PRR Ekraf) 2026.

Kegiatan berlangsung di Aula Setdakab Aceh Tamiang, Sabtu (12/9/2026), dibuka Direktur Kriya Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Adi Mukhtar Rivai. Ia didampingi Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Aceh Tamiang, Muslizar, yang mewakili Bupati Aceh Tamiang.

Muslizar mengatakan, ekonomi kreatif di Aceh Tamiang mulai menunjukkan pertumbuhan dan memberi kontribusi terhadap perekonomian masyarakat. Namun, para pelaku usaha masih menghadapi tantangan, terutama dalam memasarkan produk di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih pascabencana.

“Ini merupakan bagian dari program percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir di Aceh Tamiang. Melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan ini, kita berharap dapat meningkatkan ekonomi keluarga dan menjadi penggerak pemulihan ekonomi masyarakat,” ujar Muslizar.

Menurutnya, pengembangan ekonomi kreatif menjadi salah satu langkah pemerintah daerah untuk membuka lebih banyak peluang usaha sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat.

Upaya tersebut dinilai penting karena pemulihan ekonomi tidak cukup hanya dengan menghidupkan kembali aktivitas perdagangan. Masyarakat juga membutuhkan keterampilan yang dapat menjadi modal untuk menciptakan sumber pendapatan baru.

Direktur Kriya Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Adi Mukhtar Rivai, mengatakan pemulihan pascabencana harus berjalan lebih luas. Tidak hanya menyentuh pembangunan fisik, tetapi juga mengembalikan aktivitas ekonomi, keterampilan, dan produktivitas masyarakat.

Karena itu, kata Adi, PRR Ekraf 2026 diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pelaku ekonomi kreatif melalui pelatihan, sertifikasi kompetensi, peningkatan keterampilan, serta berbagai kegiatan pengembangan lainnya.

Ia melihat kriya, khususnya batik, memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai salah satu produk unggulan daerah.

Batik tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga dapat menjadi media untuk memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya lokal. Karena itu, produk yang lahir dari tangan masyarakat Aceh Tamiang diharapkan tidak berhenti sebagai hasil pelatihan, tetapi mampu berkembang menjadi produk yang memiliki ciri khas dan nilai jual.

Adi berharap pelatihan tersebut dapat meningkatkan kompetensi peserta, membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat melalui produk batik yang memiliki karakter dan daya saing.

Sebanyak 150 peserta mengikuti pelatihan tersebut. Mereka mendapat materi mengenai teknik produksi serta desain motif batik, kemudian dilanjutkan dengan praktik membatik bersama Sania Sari, Sekretaris Asosiasi Pengrajin dan Pengusaha Batik Indonesia sekaligus General Manager Hasan Batik Bandung.

Kegiatan itu turut dihadiri Kepala Pusat Pengembangan SDM Kreatif Kementerian Ekonomi Kreatif, tim Kementerian Ekonomi Kreatif, para narasumber, peserta dan undangan lainnya.

Dari kegiatan tersebut, batik diharapkan bukan hanya menjadi keterampilan baru bagi masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu pintu untuk menggerakkan kembali ekonomi keluarga Aceh Tamiang yang tengah menata langkah setelah bencana.