Sejarah Meranti Terancam Hilang, Para Pejuang Desak Pemerintah Terbitkan Buku Resmi

Aceh Tamiang201 Dilihat

Aceh Tamiang, inspirasiPublik.news

Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Kabupaten Kepulauan Meranti, para tokoh pejuang pemekaran menyuarakan kegelisahan yang sama. Hampir dua dekade setelah kabupaten itu berdiri, belum ada satu pun buku resmi yang mendokumentasikan sejarah panjang perjuangan lahirnya daerah tersebut.

Kondisi itu dinilai menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan memori kolektif perjuangan, karena para pelaku sejarah satu per satu mulai menua. Jika tidak segera dibukukan, jejak perjuangan yang berlangsung lebih dari setengah abad dikhawatirkan akan hilang ditelan zaman.

Mantan Ketua DPRD Provinsi Riau periode 2008, Sofyan Hamzah, BA, mendesak Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti bersama seluruh tokoh perjuangan segera merealisasikan penerbitan buku sejarah pemekaran Meranti.

“Sudah hampir 18 tahun Meranti berdiri, namun pemerintah daerah belum menerbitkan buku sejarah perjuangan lahirnya daerah ini,” kata Sofyan saat dihubungi melalui aplikasi perpesanan, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, gagasan tersebut kembali menguat setelah dirinya dihubungi Ramlan, SH, CPLA, salah seorang tokoh sentral perjuangan pemekaran yang dahulu bermukim di Jakarta sekaligus penggagas Meranti Center Jakarta. Ramlan telah menyusun kerangka awal penulisan sejarah Kabupaten Kepulauan Meranti dan mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan.

Sofyan menilai, penerbitan buku itu tidak lagi dapat ditunda mengingat sebagian pelaku sejarah masih hidup dan dapat memberikan kesaksian langsung mengenai proses panjang lahirnya Kabupaten Kepulauan Meranti.

“Saya sangat mendesak agar buku ini segera diterbitkan, mumpung para pelaku sejarahnya masih ada. Sejarah lahirnya Meranti sangat penting diwariskan kepada anak cucu kita, bahwa daerah ini lahir bukan sekadar pemberian, melainkan buah perjuangan panjang yang berlangsung lebih dari setengah abad,” tegasnya.

Gagasan penyusunan buku tersebut bermula dari diskusi para pejuang yang tergabung dalam wadah Gerakan Wadah Kerukunan Keluarga Besar Pejuang Kabupaten Kepulauan Meranti (KKBPKM).

Ramlan mengaku prihatin karena hingga usia ke-18 Meranti, belum ada upaya serius untuk menghimpun dan mendokumentasikan perjalanan sejarah perjuangan pemekaran secara utuh.

Berangkat dari kegelisahan itu, ia berkoordinasi dengan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepulauan Meranti, Wira, bersama sejumlah praktisi penerbitan untuk menyusun kerangka buku yang akan merekam perjalanan perjuangan sejak 1957 hingga Kabupaten Kepulauan Meranti resmi berdiri pada 2008.

Untuk sementara, buku tersebut diberi judul “Setengah Abad Memperjuangkan Lahirnya Kabupaten Kepulauan Meranti.”

Agar penyusunan buku berlangsung objektif dan komprehensif, para penggagas berencana menggelar Seminar Bedah Sejarah yang melibatkan seluruh simpul perjuangan pemekaran.

Melalui forum itu, setiap organisasi dan kelompok perjuangan diminta menghimpun dokumen, foto, arsip, hingga kesaksian para pelaku sejarah sebagai bahan verifikasi.

Simpul yang akan dilibatkan meliputi BP2KM Selatpanjang, BP2KM Riau di Pekanbaru, Ikatan Keluarga Besar Meranti (IKB) di Batam, Karimun, Tanjungpinang, Dumai, Siak, serta Meranti Center Jakarta.

“Tujuannya agar saat buku terbit tidak ada pihak yang merasa perannya diabaikan. Semua fakta sejarah akan disajikan berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Ramlan.

Dukungan terhadap rencana tersebut terus mengalir. Sekretaris Jenderal BP2KM, Falzan Surahman, menilai sejarah perjuangan Meranti merupakan warisan berharga yang harus dijaga.

“Perjuangan ini telah dirintis sejak tahun 1957 oleh para pendahulu kita dan baru terwujud pada tahun 2008. Sudah sepantasnya diabadikan sebagai warisan sejarah bagi generasi penerus,” katanya.

Hal senada disampaikan tokoh masyarakat Meranti di Pekanbaru, Hajah Jahlela Wati, SH, yang menyatakan masyarakat perantauan siap berpartisipasi dalam seminar sejarah tersebut.

Sementara itu, Ketua Umum Meranti Center Jakarta, Firdaus Muchtar Jamil, menyatakan kesiapan menyerahkan seluruh dokumen dan arsip perjuangan yang selama ini dihimpun untuk memperkaya isi buku.

Ia bahkan mengusulkan agar Seminar Bedah Sejarah digelar bertepatan dengan puncak peringatan HUT ke-18 Kabupaten Kepulauan Meranti di Selatpanjang, sehingga menjadi ajang silaturahmi sekaligus reuni besar seluruh pejuang pemekaran.

Penerbitan buku sejarah itu diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi perjalanan lahirnya Kabupaten Kepulauan Meranti, tetapi juga menjadi warisan intelektual bagi generasi mendatang, bahwa daerah tersebut lahir melalui pengorbanan, persatuan, dan perjuangan kolektif yang berlangsung lebih dari lima dekade. (Halfirin)