Tanam 1.000 Bambu di Bantaran Sungai Tamiang, Armia Pahmi: Ini Benteng Ekologis Pascabencana

Aceh132 Dilihat

An. (RK) Wartawan Inspirasipublik.newscom

Aceh Tamiang — Luka akibat bencana hidrometeorologi yang menerjang Aceh Tamiang pada akhir November 2025 belum sepenuhnya hilang. Namun, di Kampung Suka Jadi, Kecamatan Karang Baru, Jumat (21/8/2026), ratusan tangan mulai menanam harapan baru di atas tanah yang pernah dihantam luapan Sungai Tamiang.

Sebanyak 1.000 bibit bambu ditanam di kawasan tepi sungai melalui Gerakan Langit Biru Indonesia Asri. Aksi penghijauan tersebut dipimpin langsung Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi, MH, bersama kader Partai Demokrat, jajaran SKPK, Forkopimcam Karang Baru, serta masyarakat setempat.

Bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, gerakan tersebut bukan sekadar kegiatan penghijauan atau seremoni memperingati momentum tertentu. Penanaman bambu menjadi bagian dari upaya membangun kembali ketahanan lingkungan setelah bencana besar yang meninggalkan jejak kerusakan di berbagai wilayah.

Di hadapan masyarakat, Bupati Armia menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan memperbaiki infrastruktur yang rusak. Lingkungan juga harus dipulihkan agar daerah memiliki perlindungan alami menghadapi ancaman bencana di masa mendatang.

«“Hari ini, kita tidak sedang sekadar berkumpul atau menanam bibit tanaman. Kita sedang menyatukan niat dan mengambil langkah nyata untuk masa depan Aceh Tamiang,” ujar Armia.»

Menurutnya, kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Tamiang membutuhkan perhatian serius. Penanaman bambu di sepanjang bantaran sungai dinilai memiliki fungsi ekologis karena sistem perakaran bambu yang rapat dapat membantu memperkuat struktur tanah, mengurangi erosi dan membantu menjaga kestabilan kawasan bantaran sungai.

Langkah tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan tidak boleh dipandang sebagai persoalan jangka pendek.

Ketika air meluap, sungai menjadi ancaman. Namun ketika lingkungan dijaga, sungai dapat kembali menjadi sumber kehidupan.

Gerakan penghijauan ini digagas DPC Partai Demokrat Aceh Tamiang dalam rangka menyambut HUT ke-25 Partai Demokrat. Kegiatan tidak berhenti pada penanaman pohon, tetapi dirangkai dengan aksi sosial berupa bersih-bersih masjid serta pembagian sembako kepada masyarakat dan petugas kebersihan.

Ketua DPC Partai Demokrat Aceh Tamiang, Nora Idah Nita, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekaligus masyarakat yang masih berada dalam proses pemulihan pascabencana.

Menurutnya, pemulihan harus dilakukan secara bersama-sama, tidak hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga dengan menghidupkan kembali lingkungan dan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Ini merupakan bentuk komitmen kita bersama untuk membangkitkan kembali ekosistem dan perekonomian masyarakat yang sempat terdampak akibat bencana banjir,” kata Nora.

Sementara itu, Bupati Armia mengingatkan seluruh pihak agar penanaman tidak berhenti pada seremoni. Bibit yang telah ditanam harus dirawat hingga tumbuh dan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan serta masyarakat.

“Pohon bambu bukan hanya peneduh dan penahan erosi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Mari kita rawat pohon-pohon ini sebagaimana kita menjaga tanah kelahiran kita sendiri,” ujar Armia.

Dari Kampung Suka Jadi, gerakan itu menyampaikan pesan sederhana namun penting: pemulihan Aceh Tamiang tidak hanya tentang membangun kembali apa yang telah rusak, tetapi juga menanam perlindungan untuk generasi yang akan datang.