YANG DIPERTARUHKAN BUKAN KURSI, MELAINKAN MASA DEPAN OLAHRAGA ACEH TAMIANG

Aceh57 Dilihat


Karang Baru, An.Edwin wartawan inspirasipublik.news

Di balik riuhnya pembicaraan tentang pemilihan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh Tamiang, ada suara yang tidak boleh tenggelam: suara atlet yang sedang berlatih, suara pelatih yang terus membina, dan suara cabang olahraga yang menunggu arah pembinaan yang lebih pasti.

Sebab bagi olahraga, pergantian seorang ketua bukanlah garis akhir.

Justru dari sanalah pekerjaan sebenarnya dimulai.

Pemikiran tersebut disampaikan Hendriko Lubis kepada wartawan Inspirasipublik.news, di Karang Baru. Sabtu (19/9/2026). Ia memandang momentum pemilihan Ketua KONI Aceh Tamiang semestinya tidak hanya menjadi ruang untuk membicarakan figur, tetapi juga kesempatan membicarakan kembali wajah olahraga daerah ke depan.

Hendriko mengatakan, KONI membutuhkan pengelolaan yang lebih terarah dengan menempatkan pembinaan atlet, peningkatan prestasi, profesionalisme serta keterbukaan organisasi sebagai bagian penting dalam menjalankan roda organisasi.

Menurutnya, olahraga tidak bisa dibangun dengan pola kerja yang baru bergerak ketika kejuaraan sudah berada di depan mata.

“Kita jangan hanya sibuk ketika ada kejuaraan. Atlet harus dibina jauh sebelum mereka turun bertanding,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana. Tetapi di dalamnya terdapat persoalan besar.

Sebab seorang atlet tidak lahir sehari sebelum pertandingan.

Ada proses panjang di belakangnya. Ada latihan berulang, kegagalan, evaluasi, kedisiplinan, dukungan keluarga, peran pelatih, kebutuhan peralatan hingga kesempatan mengikuti pertandingan untuk mengukur kemampuan.

Karena itu, Hendriko menilai pembinaan harus dimulai jauh sebelum sorotan publik datang.

JANGAN MENUNGGU MEDALI BARU BERBICARA TENTANG ATLET

Selama ini, keberhasilan atlet sering kali baru terasa ketika medali sudah berada di tangan.

Nama atlet disebut. Prestasinya dibicarakan. Daerah ikut bangga.

Namun, ada bagian yang sering luput dari perhatian: siapa yang menyiapkan mereka sampai ke titik tersebut?

Bagi Hendriko, perhatian terhadap atlet tidak boleh berhenti pada saat mereka memenangkan pertandingan.

Pembinaan harus berjalan sebelum kompetisi, selama kompetisi dan setelah kompetisi.

Atlet yang belum berhasil pun tetap membutuhkan pendampingan. Sebab kegagalan dalam sebuah pertandingan bukan berarti perjalanan seorang atlet berakhir.

Dari situlah evaluasi dan pembinaan berikutnya harus dimulai.

Hendriko melihat KONI memiliki posisi penting untuk membangun ekosistem tersebut bersama seluruh cabang olahraga.

SEPULUH ARAH PEMBENAHAN

Jika mendapat amanah memimpin KONI Aceh Tamiang, Hendriko menawarkan sejumlah arah pembenahan.

Pertama, memperkuat pembinaan atlet secara berkelanjutan.

Kedua, memperluas pencarian bibit atlet muda sejak dini.

Ketiga, meningkatkan kemampuan pelatih dan sumber daya manusia olahraga.

Keempat, memperkuat komunikasi dengan seluruh cabang olahraga.

Kelima, membangun tata kelola organisasi yang profesional dan transparan.

Keenam, memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan DPRK.

Ketujuh, membuka peluang kerja sama dengan dunia usaha dan pihak swasta.

Kedelapan, mengoptimalkan fasilitas olahraga yang tersedia.

Kesembilan, membuat program berdasarkan target dan indikator prestasi yang dapat diukur.

Kesepuluh, menjadikan KONI sebagai ruang bersama bagi seluruh insan olahraga Aceh Tamiang.

Gagasan tersebut bermuara pada satu hal: pembinaan tidak boleh berjalan tanpa arah.

Setiap program harus memiliki tujuan. Setiap target harus dapat dievaluasi. Dan setiap proses pembinaan harus memberikan ruang bagi atlet untuk berkembang.

ORGANISASI JUGA HARUS MAU BERUBAH

Bagi Hendriko, persoalan olahraga bukan hanya mengenai kemampuan atlet.

Organisasi yang menaungi atlet juga harus terus berbenah.

KONI, menurutnya, membutuhkan komunikasi yang sehat dengan cabang olahraga, pemerintah, pelatih, atlet dan masyarakat.

Transparansi juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tata kelola organisasi.

Publik perlu mengetahui arah program.

Cabang olahraga perlu mengetahui bagaimana pembinaan dirancang.

Atlet perlu mengetahui ke mana mereka akan dibawa.

Dan pengurus harus mampu mempertanggungjawabkan setiap program yang dijalankan.

Dengan demikian, KONI bukan sekadar organisasi yang muncul ketika ada agenda pertandingan, tetapi benar-benar menjadi rumah pembinaan olahraga daerah.

PEMILIHAN BOLEH BERGANTI, HARAPAN ATLET JANGAN BERHENTI

Menjelang pemilihan Ketua KONI Aceh Tamiang, dinamika antarfigur tentu menjadi bagian dari proses organisasi.

Namun, Hendriko menilai ada hal yang lebih penting daripada sekadar memenangkan sebuah kontestasi.

Yakni memastikan setelah proses pemilihan selesai, pekerjaan pembinaan olahraga justru semakin serius.

Sebab atlet tidak hidup dari janji.

Atlet membutuhkan latihan.

Pelatih membutuhkan dukungan.

Cabang olahraga membutuhkan kepastian program.

Dan olahraga daerah membutuhkan sistem yang mampu bekerja dalam jangka panjang.

Karena itu, ukuran kepemimpinan KONI menurut gagasan Hendriko bukan semata-mata siapa yang menduduki kursi ketua.

Ukuran sesungguhnya adalah apa yang berubah setelah kepemimpinan itu berjalan.

Apakah pembinaan menjadi lebih terarah?

Apakah atlet muda mendapat ruang?

Apakah pelatih semakin diperhatikan?

Apakah cabang olahraga semakin kuat?

Apakah program dapat diukur?

Dan apakah organisasi semakin dipercaya?

Pertanyaan-pertanyaan itu pada akhirnya akan kembali kepada seluruh pemangku kepentingan olahraga Aceh Tamiang.

Sebab yang sedang dibicarakan bukan hanya pergantian seorang ketua.

Yang sedang dipertaruhkan adalah bagaimana olahraga Aceh Tamiang menyiapkan generasi atletnya untuk hari ini, esok, dan tahun-tahun yang akan datang.