Dulu Dijuluki “Sijabrik” di Pasar, Kini Arif Rahman Dipercaya Jadi Imam Masjid

News27 Dilihat

An,Karim wartawan inspirasipublik.news

Perbaungan — Tidak semua perjalanan hidup berjalan lurus. Ada masa ketika seseorang harus bergulat dengan kerasnya kehidupan, berpindah dari satu pasar ke pasar lainnya, mengejar rupiah demi rupiah untuk menyambung hidup.

Namun, dari kerasnya perjalanan itulah terkadang lahir pribadi yang lebih kuat, matang dan memahami arti perjuangan.

Kisah itu tergambar dalam perjalanan hidup Arif Rahman, warga Desa Melati II, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai.

Dahulu, nama Arif cukup dikenal di lingkungan pasar dengan julukan “Sijabrik”, sebutan yang melekat karena rambut panjang di bagian belakang kepalanya. Masa mudanya banyak dihabiskan di dunia pasar, lingkungan yang keras, penuh persaingan dan menuntut keberanian serta ketangguhan.

Kini, sosok yang dahulu dikenal sebagai “Sijabrik” itu telah menapaki lembaran kehidupan yang jauh berbeda.

Arif bukan lagi sekadar pedagang keliling yang berpindah mengikuti hari pekan. Ia kini dikenal sebagai pengusaha sekaligus dipercaya masyarakat mengemban amanah sebagai Ketua dan Imam Masjid Amaliyatul Muttaqin.

Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam.

Ada perjalanan panjang, kerja keras, doa dan keyakinan yang terus ia genggam.

Merantau Membawa Mimpi

Kepada inspirasipublik.news, Senin (31/8/2026), Arif mengenang masa ketika dirinya memutuskan meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke Medan pada 2008.

Modalnya bukanlah kekayaan. Ia hanya membawa pengalaman berdagang yang telah ditempa dari kehidupan pasar.

“Waktu itu saya jualan pakaian, pindah-pindah mengikuti hari pasar atau pekan. Hidup memang keras, tetapi itu menjadi motivasi saya untuk maju dan harus berhasil,” kenangnya.

Bagi Arif, kerasnya kehidupan pasar justru menjadi sekolah yang membentuk mentalnya. Ia belajar menghadapi persaingan, membaca peluang, menjaga kepercayaan dan yang terpenting, tidak mudah menyerah ketika keadaan belum berpihak.

Perlahan, kerja keras itu membuahkan hasil.

Dari usaha yang dirintis dengan penuh ketekunan, kondisi ekonominya semakin membaik. Kini Arif telah memiliki rumah pribadi, sejumlah aset berupa toko tempat usaha serta beberapa kendaraan.

Namun, ketika berbicara tentang keberhasilan, Arif tidak pernah menganggap semua itu sebagai hasil perjuangannya seorang diri.

Di balik perjalanan panjang tersebut, ada sosok perempuan yang menurutnya memiliki peran besar dalam menguatkan langkahnya.

Dia adalah sang istri, Rina.

“Istri saya itu penyemangat utama. Tanpa dukungan beliau, mungkin saya tidak akan sampai di titik ini,” ujar Arif.

Dari Dunia Pasar Menuju Rumah Allah

Di balik sosok Arif yang pernah ditempa kerasnya kehidupan pasar, ternyata tersimpan pondasi pendidikan agama yang cukup kuat.

Arif merupakan alumni Madrasah Aliyah Negeri I Padang. Bekal pendidikan agama itu kemudian menemukan ruang pengabdiannya ketika masyarakat memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin kegiatan keagamaan di lingkungan tempat tinggalnya.

Kini, ia dipercaya menjadi Ketua sekaligus Imam Masjid Amaliyatul Muttaqin.

Amanah tersebut bagi Arif bukan sekadar posisi dalam struktur kepengurusan masjid.

Lebih dari itu, ia memandangnya sebagai tanggung jawab untuk mengajak masyarakat bersama-sama memakmurkan rumah Allah.

“Tekad saya bagaimana Masjid Amaliyatul Muttaqin ini bisa makmur jemaahnya. Itu dimulai dari fasilitas masjid yang memadai untuk kenyamanan beribadah,” katanya.

Ia pun mengaku bersyukur karena mendapat dukungan dari para pengurus masjid dan masyarakat.

Menurutnya, kekompakan dan semangat gotong royong menjadi kekuatan utama dalam menjalankan berbagai kegiatan serta memenuhi kebutuhan masjid.

“Alhamdulillah, selalu ada saja donatur yang berbagi sambil beramal untuk melengkapi kebutuhan masjid. Ini bukti bahwa Allah memudahkan jalan kalau niat kita untuk memakmurkan rumah-Nya,” ucapnya.

Kesuksesan yang Tidak Berhenti pada Materi

Perjalanan Arif Rahman seolah memperlihatkan dua sisi kehidupan yang berbeda.

Di satu sisi, ia pernah berada dalam dunia pasar yang keras, tempat keberanian, ketekunan dan kemampuan bertahan menjadi modal untuk bertahan hidup.

Di sisi lain, kini ia berada di tengah masyarakat sebagai seorang pengusaha sekaligus mengemban amanah keagamaan.

Namun, bagi Arif, keberhasilan bukan hanya tentang rumah, toko, kendaraan maupun pencapaian ekonomi.

Ada kepuasan yang berbeda ketika ilmu dan pengalaman yang dimiliki dapat digunakan untuk memberi manfaat bagi orang lain.

Dari perjalanan itu pula, Arif menyadari bahwa perubahan tidak harus menghapus masa lalu.

Justru masa lalu dapat menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh.

Julukan “Sijabrik” mungkin masih menjadi bagian dari cerita masa mudanya. Tetapi perjalanan waktu telah membawanya pada sebuah fase kehidupan baru—dari kerasnya kehidupan pasar menuju pengabdian di rumah Allah.

Kisah Arif menjadi pengingat bahwa tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri.

Kerja keras dan iman bukan dua jalan yang harus dipilih salah satunya. Keduanya dapat berjalan beriringan.

Sebab, kesuksesan sejati bukan hanya ketika seseorang mampu mengubah kehidupannya sendiri, tetapi ketika keberhasilan itu membuatnya mampu bermanfaat bagi keluarga, masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.

Dan mungkin, di situlah perubahan terbesar Arif Rahman terjadi.

Bukan sekadar dari seorang “Sijabrik” menjadi pengusaha.

Tetapi dari seorang yang dahulu ditempa kerasnya kehidupan, kini dipercaya untuk menuntun langkah orang lain menuju kebaikan.