“Sagu dan Repu” Nadi Ekonomi yang Tak Boleh Hilang dari Selatpanjang

Selatpanjang13 Dilihat

Selatpanjang. An.Karim wartawan inspirasipublik.news

Sagu bukan sekadar tanaman yang tumbuh subur di tanah gambut Kepulauan Meranti. Lebih jauh dari itu, sagu telah menjadi bagian dari sejarah, kehidupan, sekaligus identitas masyarakat di daerah ini.

Menyebut Selatpanjang, sulit rasanya melepaskan ingatan dari sagu. Kota ini secara historis dan sosial telah lama dikenal sebagai Kota Sagu.

Identitas tersebut bukanlah sesuatu yang muncul dalam hitungan tahun. Jauh sebelum berbagai komoditas perkebunan berkembang seperti sekarang, masyarakat Meranti telah menjadikan pohon rumbia atau sagu sebagai bagian penting dari kehidupan.

Lahan-lahan gambut dibuka dan ditanami sagu. Dari sana lahir pangan, mata pencaharian dan perputaran ekonomi keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sagu diolah menjadi berbagai pangan tradisional yang akrab di tengah masyarakat, termasuk sagu rendang dan beragam kue berbahan sagu. Sementara batang sagu atau tual sagu memiliki nilai ekonomi yang menjadi sumber pendapatan masyarakat.

Tak mengherankan jika sampai hari ini kebun-kebun sagu masih bertahan sebagai aset ekonomi keluarga. Di berbagai pelosok desa, kilang-kilang sagu pun tetap menjadi bagian dari denyut perekonomian masyarakat Meranti.

Repu, Bukan Sekadar Sisa Pengolahan

Di balik industri sagu, ada bagian yang selama ini mungkin kurang mendapat perhatian, yakni repu.

Bagi masyarakat asli Selatpanjang, repu merupakan istilah yang sudah sangat dikenal. Material sisa pengolahan sagu ini telah dimanfaatkan masyarakat sejak dahulu dan tidak serta-merta dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang.

Dalam praktik masyarakat, repu bahkan memiliki nilai ekonomi tersendiri.

Sebagian masyarakat, termasuk komunitas Tionghoa yang telah lama hidup berdampingan dengan masyarakat setempat, memanfaatkannya sebagai bahan pakan ternak, antara lain untuk babi dan itik.

Praktik tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan kembali sisa produksi sagu sebenarnya bukan gagasan baru. Dalam kehidupan masyarakat Meranti, pemanfaatan hasil samping sagu telah berlangsung secara turun-temurun.

Karena itu, persoalan repu semestinya tidak hanya dilihat dari sisi limbah, tetapi juga dari sisi potensi pemanfaatan dan pengelolaannya.

Untuk dampak terhadap sungai maupun laut, tentu diperlukan kajian ekologis yang terukur agar penanganannya tidak hanya berdasarkan asumsi, tetapi benar-benar berangkat dari data dan kondisi lapangan.

Satu hal yang jelas, repu memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali dan tidak selayaknya seluruh sisa produksi dipandang sebagai sesuatu yang tidak bernilai.

Ribuan Kehidupan Bertumpu pada Sagu

Di balik pohon-pohon sagu yang tumbuh di tanah gambut Meranti, ada banyak kehidupan yang ikut bergerak.

Ada penebang sagu yang bekerja di kebun, ada perakit tual sagu, ada pekerja yang mengangkut batang sagu menggunakan sarana transportasi air seperti kapal pompong, hingga para buruh yang setiap hari bekerja di kilang-kilang pengolahan.

Rantai ekonomi itu panjang.

Satu batang sagu yang dipanen bukan hanya menghasilkan tepung. Di belakangnya ada tangan-tangan masyarakat yang menggantungkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Ada kebutuhan makan sehari-hari, biaya sekolah anak, biaya kesehatan dan berbagai keperluan keluarga lainnya.

Karena itu, ketika berbicara mengenai sagu, yang dibicarakan sesungguhnya bukan hanya komoditas. Ada manusia dan keluarga yang kehidupannya ikut bertumpu di dalamnya.

Aan, Pengurus Koperasi Harmonis, saat ditemui media ini, Kamis (1/10/2026), menegaskan komitmennya terhadap kesejahteraan para pekerja di sektor tersebut.

Menurut Aan, buruh yang bekerja di kilang-kilang sagu milik pengusaha yang tergabung dalam Koperasi Harmonis merupakan bagian penting yang harus mendapatkan perhatian.

“Para buruh adalah perhatian utama kami, mulai dari kesehatan, makan mereka dan lain-lain. Itu adalah prioritas utama dan selalu kami bicarakan di setiap rapat,” ujar Aan.

Aan mengatakan, perhatian terhadap pekerja tidak berhenti pada persoalan upah dan pekerjaan. Perlindungan terhadap keselamatan dan jaminan sosial juga menjadi bagian dari perhatian koperasi.

“Bahkan seluruh buruh kita masukkan dalam program BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk perlindungan kerja,” katanya.

Menjaga Sagu, Menjaga Kehidupan

Bagi Meranti, sagu bukan sekadar cerita masa lalu.

“saya masih hidup di kebun-kebun masyarakat, bergerak di atas pompong yang membawa tual, berdenyut di dalam kilang-kilang dan menjadi sumber penghasilan bagi keluarga yang menggantungkan hidup dari industri tersebut,” jelasnya

Karena itu, menjaga industri sagu tidak semata-mata berbicara tentang mempertahankan sebuah komoditas.

Menjaga sagu berarti menjaga identitas Selatpanjang, mempertahankan kearifan lokal dan sekaligus menjaga nadi ekonomi masyarakat Meranti.

Tantangannya kini bukan sekadar bagaimana sagu tetap tumbuh, tetapi bagaimana seluruh mata rantai industrinya dapat terus berjalan secara berkelanjutan—memberi nilai ekonomi kepada masyarakat, melindungi pekerja, sekaligus memastikan lingkungan tetap menjadi bagian penting yang tidak diabaikan.

Sebab, ketika sagu tetap hidup, ada harapan agar kehidupan masyarakat yang selama ini bertumpu padanya juga terus berdenyut.