Merajut Kembali Asa Perajin Lhokseumawe, Rehab-Rekon Jadi Jalan Kebangkitan Kriya

Nasional130 Dilihat

An. Faisal wartawan Inspirasipublik.news

JAKARTA — Di balik selembar anyaman pandan dan sulaman yang dirajut dengan ketekunan, tersimpan cerita tentang keterampilan, budaya, sekaligus sumber penghidupan masyarakat.

Ketika bencana datang dan mengganggu aktivitas para perajin, yang ikut terdampak bukan hanya usaha mereka, tetapi juga denyut kehidupan ekonomi yang selama ini tumbuh dari tangan-tangan terampil tersebut.

Harapan untuk kembali bangkit itulah yang kini diperjuangkan Pemerintah Kota Lhokseumawe bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda).

Ketua Dekranasda Kota Lhokseumawe, Ny. Yulinda Sayuti, menemui Direktur Kriya Kementerian Ekonomi Kreatif, Neli Yana, di Jakarta, Kamis (27/8/2026). Pertemuan tersebut membahas persiapan pelaksanaan program rehabilitasi dan rekonstruksi (Rehab dan Rekon) bagi para perajin sulam dan anyam di Kota Lhokseumawe yang terdampak bencana.

Program tersebut dijadwalkan berlangsung pada 31 Agustus hingga 1 September 2026 di Kota Lhokseumawe. Kehadirannya diharapkan bukan sekadar memulihkan aktivitas perajin yang sempat terganggu, tetapi juga menjadi pijakan untuk menata kembali usaha kriya agar dapat tumbuh lebih kuat.

Di balik rencana pemulihan itu, Lhokseumawe sesungguhnya memiliki kekayaan kriya yang cukup beragam.

Pada sektor anyaman, misalnya, keterampilan mengolah daun pandan duri masih hidup dan berkembang di sejumlah gampong. Di antaranya Gampong Jambo Mesjid, Gampong Kuala, dan Gampong Blang Cut.

Dari tangan para perajin, pandan tidak berhenti menjadi tikar tradisional khas Aceh. Bahan alam tersebut telah menjelma menjadi beragam produk bernilai guna, mulai dari tas, dompet, kotak tisu, sarung bantal, kotak parsel hingga berbagai produk fungsional lainnya.

Begitu pula dengan sulam dan bordir. Pengembangannya tidak hanya diarahkan pada keindahan produk, tetapi juga bagaimana kekayaan budaya lokal tetap hidup melalui setiap motif yang dihadirkan.

Motif Dheun Bungong Sagoe, Awan Sion, dan Bungong Canek Meusagoe, menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas sekaligus karakter kriya Lhokseumawe.

Bagi Yulinda, kekayaan tersebut merupakan modal yang tidak boleh hilang ditelan perubahan zaman.

“Lhokseumawe memiliki potensi kriya yang kuat, baik dari keterampilan para perajin maupun kekayaan budaya yang dapat dituangkan dalam berbagai produk. Karena itu, yang kita dorong bukan hanya pemulihan aktivitas mereka setelah bencana, tetapi juga bagaimana usaha dan potensi tersebut dapat terus berkembang serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Ny. Yulinda.

Ia berharap program Rehab dan Rekon menjadi momentum untuk mengembalikan kepercayaan diri para perajin sekaligus memperkuat kapasitas mereka dalam menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.

Lebih dari sekadar kembali berproduksi, para perajin diharapkan mampu melihat peluang baru di tengah perubahan selera dan kebutuhan pasar.

“Kita ingin kerajinan lokal Lhokseumawe tetap memiliki jati diri, namun juga mampu mengikuti perkembangan dan kebutuhan pasar. Kekayaan motif dan keterampilan yang kita miliki harus terus diperkenalkan melalui produk yang kreatif, berkualitas, dan memiliki nilai tambah,” tambahnya.

Yulinda juga menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif terhadap para perajin Kota Lhokseumawe.

Menurutnya, pemulihan sektor kriya membutuhkan kerja bersama. Pemerintah pusat, pemerintah daerah dan Dekranasda perlu berjalan dalam satu irama agar proses rehabilitasi tidak berhenti pada pemulihan sesaat, tetapi berlanjut hingga para perajin kembali memiliki kekuatan untuk mengembangkan usahanya.

Sebab, ketika seorang perajin kembali menganyam dan menyulam, yang sesungguhnya sedang dipulihkan bukan hanya sebuah usaha.

Ada keterampilan yang diselamatkan, ada budaya yang dipertahankan, dan ada harapan keluarga yang kembali dirajut dari tangan-tangan mereka.

Dekranasda Kota Lhokseumawe pun akan terus mendorong penguatan sektor kriya melalui sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari peningkatan kapasitas perajin, pengembangan desain dan produk hingga perluasan akses pasar.

Dengan langkah tersebut, kriya lokal diharapkan tidak hanya mampu melewati masa pemulihan pascabencana, tetapi juga tumbuh menjadi bagian penting dari kekuatan ekonomi kreatif Kota Lhokseumawe.

Dari tangan para perajin, warisan budaya itu terus dirajut. Dari sana pula, harapan untuk bangkit kembali menemukan jalannya.